Bagi ibu baru, proses menyusui sering kali terasa membingungkan di awal. Namun, memahami cara menyusui bayi yang benar dapat membantu ibu merasa lebih tenang. Kabar baiknya, ibu dan bayi sama-sama belajar dalam proses ini. Dengan posisi yang tepat serta rutinitas yang nyaman, menyusui akan terasa lebih mudah dan menyenangkan.
Cara Menyusui Bayi yang Benar
1. Cari Posisi Menyusui yang Paling Nyaman
Tidak ada satu posisi menyusui yang cocok untuk semua ibu. Beberapa posisi yang umum digunakan antara lain cradle hold, side-lying, laid-back nursing, dan rugby hold. Posisi yang tepat membantu bayi menelan lebih mudah dan mengurangi risiko puting lecet.
Beberapa tips penting saat memilih posisi:
- Pastikan tubuh ibu rileks dan tidak membungkuk
- Kepala, leher, dan tubuh bayi berada dalam satu garis lurus
- Tubuh bayi menghadap ke arah payudara ibu
- Gunakan bantal menyusui bila diperlukan
2. Pastikan Pelekatan Sudah Tepat
Latch atau pelekatan yang benar penting agar bayi mendapatkan ASI dengan optimal sekaligus membantu mencegah nyeri pada puting.
Tanda-tanda pelekatan yang baik:
- Mulut bayi terbuka lebar
- Dagu menempel ke payudara
- Sebagian besar areola masuk ke mulut bayi
- Bayi tampak tenang saat menyusu
3. Susui Bayi Sesuai Tanda Lapar
Bayi baru lahir umumnya menyusu setiap 2–3 jam, termasuk di malam hari. Namun, setiap bayi bisa memiliki pola yang berbeda. Karena itu, penting bagi ibu untuk menerapkan responsive feeding atau menyusui sesuai tanda lapar bayi.
Beberapa tanda bayi lapar antara lain:
- Mengisap tangan
- Membuka mulut seperti mencari puting
- Mengecap bibir
- Tampak gelisah atau mulai rewel
4. Biarkan Bayi Menyusu Sampai Puas
ASI berubah selama sesi menyusui berlangsung. Di awal, ASI cenderung lebih encer untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan bayi, sedangkan di akhir menyusui kandungan lemaknya lebih tinggi dan membantu bayi kenyang lebih lama.
Karena itu, penting untuk membiarkan bayi menyusu sampai selesai dari satu sisi sebelum berpindah ke payudara lainnya.
5. Jangan Lupa Menjaga Kenyamanan Ibu
Menyusui bisa berlangsung cukup lama dalam sehari, terutama pada minggu-minggu awal. Karena itu, kenyamanan ibu juga penting diperhatikan.
- Minum air putih yang cukup
- Gunakan bra menyusui yang nyaman
- Siapkan camilan sehat di dekat ibu
- Istirahat saat bayi tidur
- Gunakan nursing pillow bila perlu
Perlengkapan Menyusui
Beberapa perlengkapan berikut bisa membantu ibu lebih nyaman selama masa menyusui:
- Nursing bra yang mudah dibuka
- Breast pad untuk mengurangi rembesan ASI
- Bantal menyusui
- Pompa ASI
- Botol penyimpanan ASI
- Krim puting bila puting terasa kering atau lecet
Perlengkapan ini bukan kewajiban, tetapi bisa membantu terutama bagi ibu baru yang masih beradaptasi dengan rutinitas menyusui.
Lebih Percaya Diri Menyusui dengan Asifit
Selain menjaga pola makan dan istirahat, beberapa ibu menyusui juga mencari dukungan tambahan untuk membantu menjaga kelancaran ASI. Salah satunya dengan mengonsumsi suplemen pendukung menyusui seperti Asifit.
Asifit diperkaya ekstrak daun katuk alami yang dikenal sebagai booster ASI, serta vitamin B kompleks untuk membantu menjaga energi dan daya tahan tubuh ibu selama masa menyusui. Formulanya membantu mendukung produksi ASI secara alami sekaligus melengkapi kebutuhan nutrisi harian ibu menyusui.
Praktis dikonsumsi dan mudah ditemukan di apotek maupun e-commerce, Asifit bisa menjadi pendamping ibu agar lebih nyaman dan percaya diri menjalani perjalanan menyusui.
FAQ
1. Ibu sakit flu bolehkah menyusui?
Boleh. Dalam banyak kasus, ibu yang flu tetap dianjurkan menyusui karena ASI mengandung antibodi yang dapat membantu melindungi bayi. Namun, ibu tetap perlu menjaga kebersihan seperti mencuci tangan dan memakai masker saat menyusui bila diperlukan.
2. Apakah ibu menyusui boleh minum asam folat?
Boleh. Asam folat tetap dibutuhkan selama masa menyusui untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan bayi. Namun, konsumsi suplemen sebaiknya tetap sesuai anjuran dokter atau tenaga kesehatan.
3. Berapa jam ASI terisi kembali?
ASI sebenarnya diproduksi terus-menerus, bukan menunggu “penuh” terlebih dahulu. Semakin sering bayi menyusu atau ASI dikeluarkan, tubuh akan semakin terstimulasi untuk memproduksi ASI kembali.
Sources: